Antara Doa dan Sugesti

Posted by on Jun 06, 2013

Suwuk mBah Abdullah Salam

Dalam beberapa hari itu, Mbah Dullah, panggilan akrab dari Kiai Abdullah Salam, selalu kebanjiran tamu yang sowan dengan membawa maksud yang beragam. Bahkan tidak jarang yangh aneh-aneh.

Salah satu dari sekian banyak tamu itu ada tamu yang datang dengan maksud minta kesembuhan. Sesampainya di hadapan Mbah Dullah, tamu itu langsung mengutarakan maksudnya ;

“Mbah, saya minta kesembuhan penyakit saya. Sudah bertahun-tahun saya terkena penyakit kencing manis dan kencing batu sekaligus.

Demi mendengar keluhan tamu tersebut, sepontan Mbah Dullah menjawab,

“sampean ini bagaimana, wong sakit begitu kok malah datang ke saya, tidak ke dokter saja?! Jawab Mbah Dullah lembut.

Dan tamu itu menjawab lagi,

“Saya sudah ke dokter Yai, bahkan bukan hanya satu, dan tidak pernah ada perkembangannya, malah beberapa bulan ini tambah parah.”

“Sampean ini aneh,” tutur Mbah Dullah, “Lha kalau dokter saja tidak bisa menyembuhkan, apalagi saya. Wong saya ini bukan dokter, juga bukan dukun.”

Namun sang tamu itu tetap ngotot dan memelas,

“Sa’estu, Yai. Pokoknya saya minta tolonglah, gimana caranya supaya penyakit saya ini lekas sembuh. Saya sudah hampir-hampir tidak tahan.”

Dan Mbah Dullah pun akhirnya berkata,

“Baiklah kalau begitu, jika memang sampean ngawur minta obat kepada saya, saya juga ngawur memberi obat kepada sampean.” Kemudian Mbah Dullah masuk sebentar dan keluar lagi sambil membawa sebotol madu. “Ini saya punya madu, asli, diminum pagi satu sendok dan sore satu sendok ya.” Terang Mbah Dullah kepada tamunya itu.

Tapi kemudian tamu jadi terheran, “Yai, penyakit saya ini penyakit kencing manis. Apa ndak malah bahaya kalau saya minum madu ini?!”

“Lho, saya tadi kan sudah bilang sama sampean, saya ini bukan dokter, juga bukan dukun,” kata Mbah Dullah, “sampean ngawur minta obat kesini, saya ngawur memberi obat sampean. Tapi meski begitu, sampean jangan meremehkan, khasiat madu ini ada dalam Al-Qur’an. Sekarang terserah sampean, percaya apa ndak.”

Akhirnya tamu itu pulang sambil membawa madu pemberian Mbah Dullah. Selang tidak berapa lama, tamu itu sembuh dari penyakitnya.

Bersyukur karena penyakitnya telah sembuh, orang itu sowan lagi ke Mbah Dullah dengan membawa segepok uang yang dimasukkan amplop. Dan ketika mau di’aturkan’, Mbah Dullah langsung bilang,

“Apa di tempat sampean sudah tidak ada orang miskin? Kalau memang sampean menganggap saya miskin, ya ini saya terima. Nah, apakah sampean menganggap saya miskin?”

“Tidak, Yai”. Jawab orang tiu sambil menutupi rasa malunya.

“Ya sudah, kalau begitu uang ini sampean bawa pulang saja, berikan kepada yang lebih memerlukan. Tapi kalau sampean menganggap saya miskin, saya terima ini.”

Dan akhirnya tamu itu pulang sambil membawa uangnya kembali.

Tulisan yang lain :

  • Satu Arti Beda CaraSatu Arti Beda Cara Alkisah, pada zaman dahulu, di sebuah negeri dongeng, hidup seorang Raja yang terkenal sebagai seorang yang bertangan besi dan tidak mengenal ampun. […]
  • Cari MenantuCari Menantu Alkisah pada suatu hari datang seorang tamu kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Dengan maksud supaya dicarikan jodoh bagi anak perempuannya. Dengan nada […]
  • IKI YO TAKDIRE  GUSTI  ALLOHIKI YO TAKDIRE GUSTI ALLOH IKI YO TAKDIRE  GUSTI  ALLOH (mBah Wahab Hasbullah “in memoriam’) Adalah KH Wahab Hasbullah, salah satu tokoh NU yang juga pengasuh Pondok […]
  • Doa MahabbahDoa Mahabbah Masih tentang Mbah Sak Munine yang terkenal dengan reputasinya sebagai Kiai  ahli suwuk yang sugih dengan berbagai macam rajah dan do’a. Pada suatu […]
  • Seminar GodhekSeminar Godhek Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00 lebih, dalam sebuah ruangan yang menyerupai sebuah aula itu, yang terletak di pojok antara deretan bangunan […]

Leave a comment

Berlangganan Tulisan ke Email

Ketik email anda untu mendapatkan update terbaru langsung ke email anda.