IKI YO TAKDIRE GUSTI ALLOH

Posted by on Jun 08, 2013

IKI YO TAKDIRE  GUSTI  ALLOH

(mBah Wahab Hasbullah “in memoriam’)

IKI YO TAKDIRE GUSTI ALLOH

Adalah KH Wahab Hasbullah, salah satu tokoh NU yang juga pengasuh Pondok Tambakberas. Beliau dikenal sebagai sosok yang kharismatik, dan juga “gaul”, bahasa anak sekarang.

Ditengah-tengah kesibukan beliau dalam dunia organisasi, beliau tetap tidak meninggalkan tugasnya sebagai seorang Kiai, yaitu ‘ngajeni’ para santri.

Seperti biasa, setiap ba’da isya’ beliau punya rutinan mbalah kitab “fathul majid” yang bertempat di serambi masjid jami’ pondok tambakberas. Kebetulan pada malam itu ngajinya  sampai pada bab qodlo’ dan qodar.

Dengan panjang lebar beliau menguraikan masalah itu, mulai yang  qodlo’ mubham hingga qodlo’ mubrom, hingga macam-macam qodlo’, ada qodlo’ nikmat dan syada’id,  juga qodlo’ qodlo’ tho’at dan ma’shiat.

Kebetulan, atau memang sudah menjadi kebiasaan. Selalu saja ada santri yang saking keenakan ndengerin ngaji atau mungkin karena lainnya, selalu terkantuk-kantuk bahkan sampai tertidur. Salah satu dari santri yang biasa ngantuk saat ngaji itu, sebut saja namanya “Kaslan”, ia  juga tertidur saat pengajian berlangsung, dan ia terbangun ketika salah satu temannya “ngileni” hidungnya dengan sebuah sobekan kertas yang dipilin.

Dan ketika  Kaslan terjaga dari tidur ayamnya, pengajian sudah hampir selesai, dan ia juga masih sempat mendengarkan keterangan pengajian dari  Mbah Wahab, “bahwa segala sesuatu yang terjadi dan kita lakukan adalah  tidak lepas dari takdir Allah.”

Seusai pengajian para santri langsung kembali ke kamar masing-masing. Ada yang juga yang menruskan tiduran di serambi masjid. Salah satunya adalah Kaslan itu.

Hmmm… “ Kaslan membatin dalam hatinya dengan keadaan matanya yang masih riyip-riyip. “benar sekali, segala yang kita lakukan dan terjadi adalah merupakan takdir Allah, entah itu baik atau buruk, orang kere atau  orang  kaya adalah merupakan takdirnya Allah, begitu juga dengan orang jadi maling atau jadi kiai.”

Seakan begitu terkesan dengan keseimpulan pemahaman yang didengarnya sesaat ketika ia melek saat pengajian berlangsung, membuatnya seperti begitu tenggelam dalam tafakkur, hingga tanpa terasa waktu sudah memasuki tengah malam. Dan tanpa disadari pula perutnya tiba-tiba protes dan berkeruyuk.

“hmm… iki weteng kok gak kompromi blas yo….. bengi ngene golek mangan nang endi…., liwetan sore  yo wis ludes.”

Tiba-tiba saja melintas di benaknya, “mangga, ya.. mangga” pikirnya melayang pada sebuah pohon mangga dihalaman ndalem Mbah Wahab  yang kebetulan saat itu sedang musim buah.

jegekal” Segera aja Kaslan terbangun dan mengendap menuju pekarangan Mbah Wahab, toleh kanan toleh kiri, amaan…..

Sambil tak lupa membawa “gembolan” sarung ia segera beraksi memanjat pohon mangga itu. dilanjutkan tangan dan penciumannya yang beraksi dengan cekatan menyortir buah-buah yang sudah masak.

Ketika sedang asyik-asyiknya Kaslan bergerilya, tiba-tiba ia mendengar suara yang sangat dikenalnya dari arah bawah, “hoi… sopo iku yo, bengi-bengi ngene penekan..? ayo ndang mudun..!”

Deg…..!! deg…….!! Ser…….!!

Apa dikata, tanpa menunggu lebih lama lagi, Kaslan segera melorot turun kebawah, sambil tetap membawa gembolan sarungnya yang kini sudah berisi beberapa buah mangga.

Sesampai di bawah sudah menunggu Mbah Wahab yang berdiri dengan keren. dengan menenang-nenangkan hatinya yang “kemerungsung” Kaslan menghampiri beliau.

Dan setelah ia mendekat, Mbah Wahab langsung menginterogasi, “sopo sampean? Lapo bengi-bengi kok penekan?”

“kulo santri, Yai. Niki wau ngunduh pencite panjenengan” , Jawab Kaslan

“lho….., kok ora omong aku, berarti sampean lak nyolong..!?” lanjut Mbah Wahab.

“ngapunten Yai… kulo nyolong niki wau  lak nggee sebab takdire Gusti Allah, sami ugi Gusti Allah maringi lesu dateng kulo.” Jawab Kaslan.

 Mbah Wahab manggut-manggut mendengar argumen dan pembelaan santri itu. “ooo ngunu to kang, yo wis nak ngunu tak ikhlasno”.

Plong….. batin Kaslan.

Tapi kemudian di luar dugaan Kaslan, tiba-tiba Mbah Wahab mengambil melepas sandalnya dan di”sambok”inya santri itu sampai kaing-kaing.

Lho.…! Yai…..! kok…….?????

Sambil mesem Mbah Wahab menjawab, “ihlashno yo Kang, aku nyamboki sampean iki yo takdire Gusti Allah….!”

  *****

**kisah ini dituturkan oleh Gus Dur saat beliau berkunjung di Tambakberas, dan saya tulis dengan bahasa yang dipermak.**

Tulisan yang lain :

  • Satu Arti Beda CaraSatu Arti Beda Cara Alkisah, pada zaman dahulu, di sebuah negeri dongeng, hidup seorang Raja yang terkenal sebagai seorang yang bertangan besi dan tidak mengenal ampun. […]
  • Doa MahabbahDoa Mahabbah Masih tentang Mbah Sak Munine yang terkenal dengan reputasinya sebagai Kiai  ahli suwuk yang sugih dengan berbagai macam rajah dan do’a. Pada suatu […]
  • Cari MenantuCari Menantu Alkisah pada suatu hari datang seorang tamu kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Dengan maksud supaya dicarikan jodoh bagi anak perempuannya. Dengan nada […]
  • Antara Doa dan SugestiAntara Doa dan Sugesti Suwuk mBah Abdullah SalamDalam beberapa hari itu, Mbah Dullah, panggilan akrab dari Kiai Abdullah Salam, selalu kebanjiran tamu yang sowan dengan […]
  • Nurani Sang KyaiNurani Sang Kyai Mbangkong di waktu shubuh bagi sebagian santri ada yang telah menjadi tradisi, Ndak tahu kenapa, apa memang waktu seperti itu merupakan waktu yang […]

Leave a comment

Berlangganan Tulisan ke Email

Ketik email anda untu mendapatkan update terbaru langsung ke email anda.