Satu Arti Beda Cara

Posted by on Jun 08, 2013

Alkisah, pada zaman dahulu, di sebuah negeri dongeng, hidup seorang Raja yang terkenal sebagai seorang yang bertangan besi dan tidak mengenal ampun. Pada suatu malam, Raja itu bermimpi, semua giginya yang atas maupun yang bawah copot semua, hingga menjadi ompong.

Karena selalu dihantui dengan mimpinya itu, Raja menjadi sangat gelisah dan tidak bisa tidur hingga berhari-hari.  Hingga keemudian dia mengumpulkan semua menterinya untuk dimintai pendapat, siapa yang bisa menjelaskan arti mimpinya itu. Suasana jadi hening, tidak  seorang pun di antara para menteri itu yang mengetahui arti mimpi tersebut. Kemudian salah seorang menteri senior angkat bicara dan  mengusulkan kepada raja untuk memanggil seseorang yang ahli dalam menafisirkan arti dari sebuah mimpi. Dan usulan disetujui Sang Raja.

Tidak berapa lama kemudian, didatangkanlah seorang juru mimpi di daerah tersebut, yang reputasinya sebagai penafsir mimpi sudah tidak diragukan lagi, bahkan dia telah mendapatkan gelar Profesor Mimpi. Tidak ada stupun dari tafsir mimpinya yang meleset selam karirnya sebagai juru mimpi.

Setibanya di istana, juru mimpi itu  langsung dihadapkan pada Sang Raja. Tanpa menunggu lebih lama lagi Sang Raja langsung menceritakan semua mimpinya itu, dan minta untuk segera diartikan. Begitu Raja selesai menceritakan mimpinya, sang juru mimpi langsung menjawab sambil berseru; “INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJI’UN….”

“Deggg…..” jantung sang raja langsung berdetak keras. Tanda apa ini… belum-belum sudah INNALILLAH.

“Dengarlah Wahai Paduka,” sang juru mimpi melanjutkan penuturannya, “sungguh merupakan berita duka bagi Paduka. Arti mimpi itu adalah bahwa semua keluarga paduka, mulai dari kakek, nenek, ibu, bapak, istri-istri dan juga putra-putri paduka, akan meninggal dalam waktu yang hampir bersamaan karena suatu sebab, yang hanya Allah sendiri tahu. Hingga hanya tinggal paduka seorang  yang hidup,  karena itu bersiap-siaplah, wahai, Paduka”

“Duggg…deggg….,” semakin tidak karuan perasaan sang raja demi mendengar keterangan juru mimpi tersebut, hatinya jadi ‘kemerungsung’ dan mobat-mabit, dan seketika muka sang raja langsung memerah. Baginya itu adalah suatu keterangan yang menyakitkan dan tidak menyenangkan, membuat hatinya semakin tambah gundah dan khawatir.

Karena tidak puas dengan keterangan juru mimpi itu, yang dianggap telah membawa berita sial kepadanya, kemudian Raja yang terkenal tanpa ampun itu memutuskan untuk menghukum mati sang juru mimpi.

Setelah juru mimpi itu dihukum mati, raja menyuruh para menterinya untuk mencari juru mimpi yang lainnya. Tidak berapa lama kemudian didapatkan lagi seorang juru mimpi yang lainnya, dan jawaban juru mimpi inipun sama dengan juru mimpi yang pertama, bahkan lebih menakutkan lagi. Akhirnya juru mimpi kedua inipun dihukum mati.

Untuk ketiga kalinya Raja memerintahkan untuk mencari lagi orang yang bisa menafsirkan mimpinya. Tetapi setelah dua kejadian mengerikan itu, para ahli tafsir mimpi tidak ada lagi yang bersedia untuk didatangkan ke istana, karena takut akan menyusul dua kawannya yang telah dihukum mati.

Akhirnya setelah dengan susah payah mencari, ditemukan juga orang yang bersedia menafsirkan mimpi Raja tersebut. Dia tidak mempunyai reputasi sebagai seorang yang ahli dalam menafsirkan mimpi, tapi lebih dikenal sebagai orang yang aneh (kadang kenthir kadang normal), bahkan diwaktu tertentu bisa kenthir sekaligus normal secara bersamaan. Orangnya tua,  kurus ‘nylekutis’, dan tidak ‘ndayani’.

Sesampainya di hadapan Raja, tanpa basa-basi Sang Raja langsung menceritakan semua hal ihwal tentang mimpinya. Juga tentang dua orang juru mimpi sebelumnya yang telah dihukum mati, disertai ancaman pula.  Dengan tenang si Zahid tersebut mendengar penuturan raja sampai selesai, dan tidak langsung menjawab, hingga suasana tampak hening sejenak.

“Nah, Pak Tua… sekarang ceritakan apa arti dari mimpiku tersebut…!” perintah Sang Raja dengan keren.

“ALAHMDULILLAH….”, jawab orang tua itu sambil tersenyum.

“PLOOONG……” lapang rasanya dada Sang Raja mendengar ucapan orang tua itu. “Teruskan, Pak Tua…!” perintah Sang Raja.

“Alhamdulillah…,” lanjut Pak Tua itu, “ Sungguh merupakan kabar baik dan gembira bagi Paduka. Paduka akan berumur sangat panjang sekali. Bahkan saking panjangnya umur Paduka, hingga tiba masanya dimana semua keluarga paduka, mulai dari kakek, nenek, bapak, ibu, istri-istri, dan juga putra-putri paduka dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, paduka masih dalam keadaan segar bugar dan selalu diberi kesehatan oleh Yang Maha Kuasa.  Sungguh melimpah nikmat Tuhan yang diberikan kepada Paduka….”

“Plooong….blooong…..” Raja sangat senang sekali mendengar keterangan Pak Tua itu, kemudian Raja menyuruh bendaharanya untuk mengambil hadiah yang banyak buat Pak Tua itu, tetapi Pak Tua itu menolaknya dengan halus, sambil berkata, “Maafkan hamba, Paduka, bukannya saya menolak pemberian Paduka, tetapi saya takut kalau saya terima hadiah itu, ke’kenthira’n saya nanti bakal hilang dan tidak bisa lagi menjawab pertanyaan paduka dengan benar dan apa adanya.”

Sang Raja tertegun beberapa saat mendengar jawaban Pak Tua itu. Hingga sejurus kemudian tiba-tiba Raja tertawa terbahak-bahak, dan Pak Tua itu juga ikut tertawa bersama Sang Raja. Sedang para menteri dan ponggawa yang ada di ruangan terlongong-longong keheranan. Baru sekali ini mereka melihat Sang Raja bisa tertawa selepas dan sebebas itu.

*********

Tulisan yang lain :

  • Antara Doa dan SugestiAntara Doa dan Sugesti Suwuk mBah Abdullah SalamDalam beberapa hari itu, Mbah Dullah, panggilan akrab dari Kiai Abdullah Salam, selalu kebanjiran tamu yang sowan dengan […]
  • Seminar GodhekSeminar Godhek Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00 lebih, dalam sebuah ruangan yang menyerupai sebuah aula itu, yang terletak di pojok antara deretan bangunan […]
  • IKI YO TAKDIRE  GUSTI  ALLOHIKI YO TAKDIRE GUSTI ALLOH IKI YO TAKDIRE  GUSTI  ALLOH (mBah Wahab Hasbullah “in memoriam’) Adalah KH Wahab Hasbullah, salah satu tokoh NU yang juga pengasuh Pondok […]
  • KH. Moh. SalimKH. Moh. Salim KH. Moh. Salim Hidup adalah pengabdian, itulah motto KH. Moh. Salim, atau dikalangan siswa-siswi bahkan alumni MI Bahrul Ulum lebih akrab di sapa […]
  • Cari MenantuCari Menantu Alkisah pada suatu hari datang seorang tamu kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Dengan maksud supaya dicarikan jodoh bagi anak perempuannya. Dengan nada […]

Leave a comment

Berlangganan Tulisan ke Email

Ketik email anda untu mendapatkan update terbaru langsung ke email anda.