MENGENAL MADZHAB SYAFI’I

Posted by on Jun 08, 2013

MENGENAL MADZHAB SYAFI’I

Oleh : M.Abdullah Rif’an Lc.

  1. A.     Masa Kecil Imam syafi’i

Beliau adalah salah satu ulama’ besar yang memiliki nama lengkap Muhammad bin Idris bin al-Abbas bin Utsman bin Syafi’ al-Hasyimi al-Qurosyi al-Muttholibi. Beberapa kalangan diantaranya mengenal beliau dengan sebutan Abu Abdillah akan tetapi namanya lebih sering dikenal dengan sebutan al-Syafi’i, yang dinisbatkan pada kakeknya. Nasab beliau bertemu dengan Rasulullah SAW pada kakek Nabi yang ke-3 yaitu Abdu Manaf bin Qushay.

Al-Syafi’i lahir pada tahun 150 H di Guzzah, salah satu daerah yang terletak di negara Syam. Sebenarnya Guzzah bukanlah tempat nenek moyang beliau akan tetapi pada saat al-Syafi’i lahir ayahnya yang bernama Idris datang ke Guzzah bersama istrinya, yang kemudian meninggal di daerah tersebut. Setelah al-Syafi’i berumur dua tahun ibunya khawatir akan keterasingan nasab anaknya. Karena kekhawatirannya tersebut akhirnya sang ibu memutuskan untuk kembali ke Makkah al-Mukarromah, tempat nenek moyang beliau. Imam Syafi’i lahir sebagai anak yatim yang menjalani hidup dalam perawatan ibunya. Pada saat al-Syafi’i mulai hidup dan bertempat tinggal di Makkah tibalah masa-masa pendidikan bagi beliau. Sang ibupun menyerahkan anaknya kepada seorang guru supaya di didik tentang al-Qur’an. Hingga pada suatu ketika ibu al-Syafi’i merasa tidak sanggup kembali untuk membiayai pendidikan beliau, maka al-Syafi’i pun disuruh untuk tidak meneruskan pendidikannya.

Al-Syafi’i berbeda dengan kebanyakan anak lainnya, beliau bisa menangkap dengan cepat apa yang telah di ajarkan dari pengajarnya dan ketika pengajar tadi sudah meninggalkan tempatnya al-Syafi’i pun mengajarkan apa yang telah beliau dapat kepada anak-anak kecil yang lain. Hal ini pun di ketahui oleh pengajarnya, maka al-Syafi’i pun di bebaskan dari biaya pendidikan sampai beliau benar-benar hafal al-Qur’an ketika beliau berumur tujuh tahun. Ketika beliau berumur tujuh tahun dan sudah hafal al-Qur’an, al-Syafi’i memutuskan untuk pergi ke Qabilah Hudzail, yaitu suatu Qabilah yang bertempat di daerah pinggiran Makkah yang terkenal dengan kefasihannya dimasa itu. Di tempat itulah beliau belajar ilmu bahasa dan menghafalkan bait-bait serta syair-syair bahasa Arab.

Setelah dirasa cukup dengan ilmu bahasanya, beliau memutuskan untuk kembali ke Makkah untuk belajar ilmu Fiqh kepada seorang mufti Makkah dimasa itu yang bernama Muslim bin Kholid al-Zanji. Hingga pada saat al-Syafi’i berumur lima belas tahun beliau diberi izin oleh gurunya untuk berfatwa. Karena semangat beliau yang berkobar-kobar untuk menuntut ilmu, al-Syafi’i memutuskan ke Madinah untuk menuntut ilmu kepada Imam Malik yang saat itu menjabat sebagai mufti Madinah. Pada saat bertemu dengan Imam Malik, al-Syafi’i membacakan al-Muwattha’ yang telah beliau hafal dihadapannya. Ketika al-Syafi’i mencapai tingkatan Rijal (sebutan untuk perawi hadits), beliau memutuskan untuk bekerja dan mencari rizqi agar dapat mencukupi kehidupannya yang dibantu oleh Abdullah bin al-Qurosyi, seorang mufti Yaman.

Telah diriwayatkan dari al-Syafi’i bahwa beliau berkata “Aku mengalami kepailitan tiga kali, sampai-sampai aku telah menjual sedikit dan banyak dari apa yang telah aku miliki hingga perhiasan anak dan istriku ……….”. Al-Syafi’i menikah dengan Khamidah binti Nafi’ bin ‘Ansah bin Amr bin Utsman bin Affan dan beliau dikaruniai anak yang bernama Muhammad (menjabat Qodli dikota Madinah), Khalab, Fathimah dan Zainab.

 

  1. B.     Sanjungan Ulama Terhadap al-Syafi’i

Imam Syafi’i telah menempati tempat yang tinggi dalam bidang Fiqh dan beberapa ilmu yang lain, hingga banyak ulama’ yang menyanjung beliau. Beberapa sanjungan yang dilontarkan kepada Imam Syafi’i yang pertama adalah dari Imam Ahmad bin Hanbal, yakni sebagaimana berikut: Imam Ahmad bin Hanbal ketika di tanya oleh anak beliau mengapa sering kali menyanjung Imam al-Syafi’i dan beliau pun menjawab “Al-Syafi’i untuk manusia itu bagaikan kesehatan untuk badan manusia, dan bagaikan matahari untuk dunia, maka pikirkanlah apakah kedua hal ini ada penggantinya?” Imam Ahmad berkata “Aku tidak mengetahui tentang yang menasih hadits dari mansuhnya sampai aku belajar pada al-Syafi’i” Beliau berkata juga “Tidak ada seorangpun dari orang yang memiliki tinta dan kertas kecuali al-Syafi’i memiliki ………..”.

Sanjungan yang kedua dari Yahya bin Sa’d al-Qotthon berkata “Aku tidak mengetahui yang lebih pandai dan cerdas dari al-Syafi’i, dan aku selalu berdoa kepada Allah yang aku khususkan kepada beliau seorang didalam setiap shalat”. Kemudian Abdur Rahman bin Mahdi pun berkata “Ketika aku melihat (al-Risalah) milik al-Syafi’i yang telah mengherankan diriku, maka aku telah melihat perkataan dari seseorang yang cerdas dan fasih dan juga tulus hatinya, maka kemudian aku memperbanyak doa untuknya”. Dan beliau juga berkata “Aku tidak akan shalat kecuali aku berdoa untuk al-Syafi’i didalam shalat ini”

 

  1. C.     Guru-Guru Imam Syafi’i

Imam Syafi’i telah menimba ilmu dari banyak ulama’ besar, baik yang berada di Makkah al-Mukarromah, Madinah al-Munawwaronh, Yaman dan Iraq.

1)         Guru-guru beliau yang dari Makkah al-Mukarromah adalah sebagai berikut:

  1. Muslim bin Kholid al-Qurosyiyyi al-Zanji, wafat pada tahun 179 H, salah satu imam penduduk Makkah. Beliau berasal dari Syam dan mempunyai laqob al-Zanji (kulit hitam atau negro), dikarenakan warna kulit beliau yang terlalu putih sampai kelihatan kemerah-merahan. Imam al-Syafi’i menuntut ilmu pada beliau sebelum menuntut ilmu pada Imam Malik.
  2. Sufyan bin Uyainah bin Maimun Al-Hilali pakar hadits kota Makkah, wafat pada tahun 198 H. Beliau adalah seorang yang buta dan telah menunaikan ibadah haji tujuh puluh kali. Imam Syafi’i berkata “Jika tidak ada Malik dan Sufyan maka ilmu di Hijaz telah hilang”.
  3. Sa’d bin Salim al-Qodakh.
  4. Dawud bin Abdur Rohman al-‘Atthor.
  5. Abdul Hamid bin Abdul Aziz bin Abu Zuwad.

2)         Guru-guru beliau yang dari Madinah al-Munawwaroh adalah sebagai berikut:

  1. Imam Malik bin Anas bin Malik, wafat pada tahun 197 H yang menjadi imamnya kota Hijroh.
  2. Ibrahim bin Sa’d al-Anshori.
  3. Abdul Aziz bin Muhammad al-Darowardi.
  4. Ibrahim bin Abu Yahya al-Asami.
  5. Muhammad bin Sa’id bin Abu Fadik.\
  6. Abdullah bin Nafi’ al-Shoigh.

3)         Guru-guru beliau yang dari Yaman adalah sebagai berikut:

  1. Mathrof bin Mazin.
  2. Hisyam bin Yusuf Abu Abdir Rohman, wafat pada tahun 197 H dan beliau adalah Qodli Sana’a.
  3. Amr bin Abu Salamah (murid dari Imam al-Auza’i)
  4. Yahya bin Hassan (murid dari Imam Laits bin Sa’d)

4)         Guru-guru beliau yang dari Iraq adalah sebagai berikut:

  1. Waki’ bin al-Jarokh bin Malikh Abu Sufyan, wafat pada tahun 197 H dan salah satu pakar hadits kota Iraq dimasanya.
  2. Khamad bin Usamah al-Kufi Abu Usamah, wafat pada tahun 201 H.
  3. Isma’il bin Aliyyah al-Bashri
  4. Abdul Wahhab bin Abdul Majid al-Bashri.
  5. Muhammad bin Al-Khasan al-Syaibani (murid Imam Abu Hanifah).

Mereka semua di atas adalah para guru-guru Imam al-Syafi’i yang masyhur di dalam ilmu Fiqh dan Fatwa. Dari nama-nama para guru-guru tersebut kita bisa mengetahui bahwa Imam Syafi’i telah mengambil Fiqh dari banyak madzhab yang ada dimasanya, seperti fiqh Imam Malik, fiqh Imam al-Auza’i dari muridnya Amr bin Salamah, fiqh Imam Laits dari muridnya Yahya bin Hassan, dan juga mengambil fiqh Imam Abu Hanifah dari muridnya Muhammad bin al-Hassan. Dan dari itu semua terkumpulah pada diri Imam Syafi’i fiqh Makkah, Madinah, Iraq dan Mesir.

Imam Syafi’i mempelajari Fiqh dari beberapa madzhab tersebut dengan cara mengkritisi, menyelidiki dan mencari pemahaman bukan dengan mencela dan menjadi pengikut. Maka setelah mempelajari, Imam Syafi’i mengambil apa yang harus di ambil dan menolak apa yang harus ditolak menurut pemikiran beliau yang tetap mengambil dasar dari al-Qur’an al-Karim, hadits, menjaga kemaslahatan dan mencegah kemafsadahan.

 

  1. D.    Murid-Murid Imam Syafi’i

Selain memiliki banyak guru, Imam Syafi’i juga mempunyai beberapa murid yang telah mengambil fiqh darinya. Imam Syafi’i mempunyai murid-murid yang telah ditemui ketika di Makkah, di Baghdad untuk kedua kalinya dan juga pada akhir masa beliau di negara Mesir.

1)         Murid-Murid Imam Syafi’i di Makkah Al-Mukarromah adalah sebagai berikut:

  1. Abu Bakar Abdullah bin Zubair al-Asadi al-Makky al-Khamidy, beliau mengikuti Imam Syafi’i pergi dan menetap bersamanya dari Makkah al-Mukarromah menuju ke Baghdad sampai ke Mesir hingga Imam Syafi’i wafat. Kemudian beliau kembali ke Makkah al-Mukarromah dan berfatwa untuk ahli Makkah sampai beliau wafat pada tahun 219 H dan ada yang mengatakan pada tahun 220 H.
  2. Abu al-Walid Musa bin Abu al-Jarwud.
  3. Abu Ishaq Ibrohim bin Muhammad al-Abbasi, wafat di Makkah al-Mukarromah pada tahun 237 H.

2)         Murid-Murid Imam Syafi’i di Baghdad dan Iraq adalah sebagai berikut:

  1. Abu Tsaur al-Kalabi Ibrohim bin Kholid al-Bagdadi, wafat pada tahun 240 H.
    1. Abu Ali al-Khusain bin Ali al-Karobisy, dipanggil dengan sebutan al-Karobisy karena beliau adalah penjual Karobis (pakaian tebal), wafat pada tahun 245 H dan ada yang mengatakan 256 H.
    2. Abu Ali al-Khusain bin Muhammad bin al-Khusain al-Za’farony, dinisbatkan pada Za’faronah suatu desa dekat dengan kota Baghdad, wafat pada tahun 260 H dan ada yang mengatakan 249 H.

3)         Murid-murid Imam Syafi’i di Mesir adalah sebagai berikut:

  1. Kharmalah bin Yahya bin Abdullah bin Kharmalah al-Misry, wafat pada tahun 243 H dan ada yang mengatakan 244 H.
  2. Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya al-Qurosyy al-Buwaithy, dinisbatkan pada Buthi sebuah desa didataran tinggi negara Mesir. Beliau termasuk sebagian dari pembesar Ashhab al-Syafi’i dan menjadi pengganti Imam Syafi’i setelah beliau wafat. Imam Syafi’i berkata tentang al-Buwaithy “Tidak ada seorangpun yang lebih berhak dengan kedudukanku dibanding Abi Ya’qub, tidak ada seorang pun dari ashhabku yang lebih pandai daripada dia”. Beliau wafat dalam penjara pada tahun 232 H dan ada yang mengatakan 231 H.
  3. Abu Ibrahim Isma’il bin Yahya al-Muzany al-Mishry. Imam Syafi’i berkata tentang beliau “Ketika dia melihat syetan dia akan mengalahkanya”. Beliau wafat pada tahun 264 H dan dimakamkan dekat dengan makam Imam Syafi’i.
  4. Al-Robi’ bin Sulaiman bin Abdul Jabbar al-Murody, seorang muadzin masjid Jami’ Mesir dan juga menjadi khodim Imam Syafi’i. Imam Syafi’i berkata “Sesungguhnya dia itu paling kuat hafalanya diantara Ashabku, manusia dari beberapa penjuru bumi pergi menuju dia untuk mengambil ilmu al-Syafi’i dan riwayat kitabnya”. Ketika diucapkan al-Robi’ dalam kitab-kitab al-Syafi’iyyah maka sesungguhnya yang diharapkan adalah al-Robi’ al-Murody. Beliau wafat pada tahun 270 H.
  5. Al-Robi’ bin Sulaiman bin Dawud al-Jizy dinisbatkan dari Jizah, beliau sedikit meriwayatkan dari Imam Syafi’I dan wafat pada tahun 256 H.
  6. Sebagian orang yang menimba ilmu dari Imam Syafi’i dan tidak menjadi pengikut madzhab beliau adalah Imam Ahmad bin Hanbal.

 

  1. E.     Keteladanan Sikap al-Syafi’i

Para ulama’ menyebutkan bahwasannya ketika Imam Syafi’i datang ke Mesir menghadaplah al-Robi’ al-Murody kepada beliau, ia memberi nasehat supaya beliau mendapat kedudukan dihadapan Hakim, terlihat mulia dihadapan manusia, dan menyimpan makanan untuk setahun didalam rumahnya. Akan tetapi Imam Syafi’i menolak nasehat tersebut sambil berkata “Hai Robi’ seseorang yang dirinya tidak di agungkan oleh ketaqwaan maka tidak ada keagungan untuknya, Aku telah dilahirkan di Guzzah dan aku dirawat di Hijaz dan aku tidak mempunyai makanan pada waktu malam………………... Perkataan ini menunjukkan bahwa kepercayaan beliau mutlak hanya kepada Allah SWT, dan diriwayatkan juga bahwasannya beliau berkata “Ketika aku tidak melihat seseorang, maka aku suka ketika dia salah, tidak ada dalam hatiku dari ilmu kecuali aku bimbang bahwa ketika dia dihadapan setiap orang dan tidak menisbatkan kepada diriku”.

 

  1. F.      Fiqh Imam Syafi’i

Imam Syafi’i tidak pernah mengarah pada pembuatan madzhab yang independen atau mengikuti beberapa pendapat fiqh yang independen seperti pendapat Imam Malik. Ketika beliau pergi menuju Baghdad untuk pertama kalinya, Imam Syafi’i di anggap dari Ashab Imam Malik yang selalu menjaga beberapa pendapat dan melawan para Ahli al-Ro’yu untuk menjaga fiqh Madinah, hingga beliau disebut dengan sebutan Nashiru al-Hadits (penyelamat hadits). Setelah cukup lama menetap di Baghdad, Imam Syafi’i memutuskan untuk mempelajari kitab-kitab Muhammad bin al-Hassan murid dari Imam Abu Hanifah. Setelah itu beliau mendebat dan mengkritik para Ahlu al-Ro’yi sampai beliau merasa bahwasannya beliau harus keluar untuk para manusia dengan komposisi/ campuran fiqh ahli Iraq dan fiqh ahli Madinah.

Imam Syafi’i pun mempelajari pendapat-pendapat Imam Malik dengan mempelajari, mengkritik, dan menyelidiki bukan mengalahkan kefanatikan atau mungkin perdebatan pendapat. Karena menurut beliau ketika mengalahkan kefanatikan maka hanya akan menunjukan beberapa kekurangan. Seperti halnya ketika terjadi beberapa keunggulan dan kekurangan fiqh ahli Iraq, menurut pandangan beliau diharuskan ada pemikiran dan pengarahan penbaharuan misalnya munaqosyah dalam furu’ dan pengarahannya pada mengetahui ushul-nya serta membahas batas-batas dan ukuran. Sehingga Imam Syafi’i pun keluar dari Baghdad dan mencetuskan garis-garis pembaharuan.

 

  1. G.    Periodesasi

Proses pembuatan pendapat-pendapat Imam Syafi’i terbagi dalam tiga periode, yakni: periode Makkah al-Mukarromah, periode Madinah al-Munawwaroh, dan periode Mesir. Dan pada setiap masa ini munculah murid-murid Imam Syafi’i yang belajar dari beliau dan mensyiarkan madzhab beliau di masanya. Imam Syafi’i menetap di kota Makkah al-Mukarromah setelah beliau dari Baghdad yang pertama dalam jangka waktu sekitar sembilan tahun. Dan disini beliau merasa paling semangat di masa-masa penuntutan ilmu, dikarenakan di masa ini beliau banyak memperhatikan beberapa pendapat para ulama’-ulama’ besar dimasa itu. 

 

  1. H.    Istilah Fiqh Madzhab Syafi’iyah

Ada beberapa istilah fiqh yang biasa digunakan oleh Imam Syafi’i, antara lain sebagai berikut:

1)         Lafadz fardlu untuk sesuatu yang wajib atau yang diharuskan untuk melaksanakanya. Seperti juga kata muharram atau haram untuk sesuatu yang harus ditinggalkan dan untuk sesuatu yang menjadi kebalikan dari fardlu.

2)         Kata karohah berarti sesuatu yang dianggap bagus untuk dilaksanakan, misalnya: diriwayatkan bahwasannya sesungguhnya nabi Muhammad SAW berkata: Bumi itu masjid kecuali kuburan dan toilet”. Disini Imam Syafi’i memberi illat bahwasannya sesungguhnya kuburan dan toilet itu tidak suci, dan berkata bahwa kuburan adalah tempat yang dibuat mengubur masyarakat umum, yaitu pasir yang bercampur dengan para mayat. Adapun shohro’ (sahara atau padang pasir) yang tidak pernah dibuat mengubur sama sekali kemudian dibuat mengubur suatu kaum yang telah mati, jika pada suatu saat ada seseorang yang shalat pada kuburan tersebut atau diatasnya maka Imam Syafi’i menghukumi makruh dan tidak menyuruh untuk mengulang kembali shalatnya dikarenakan diketahui bahwa pasir itu suci dan tidak bercampur dengan sesuatu apapun.

3)         Kata uhibbu berarti sesuatu yang bagus untuk dilaksanakan, akan tetapi tidak sampai tahap wajib, misalnya perkataan Imam Syafi’i tentang pelepasan anjing atau burung yang sudah jinak. Imam Syafi’i berkata “Ketika seorang lelaki muslim melepas anjing atau burungnya yang sudah jinak aku menyukai untuk dia membaca basmalah, maka ketika dia lupa tidak membaca basmalah kemudian anjing atau burung tadi membunuh buruannya maka untuk dia boleh memakannya dikarenakan orang muslim yang menyembelih itu atas nama Allah SWT meskipun dia lupa”. Dan Imam Syafi’i juga berkata “Dan aku menyukai pada sembelihan supaya menghadap kearah qiblat ketika hal itu memungkinkan, dan ketika penyembelih tidak melaksanakannya, maka dia telah meninggalkan sesuatu yang aku menyukainya dan itu tidak mengharamkan pada yang disembelih”. Al-Robi’ meriwayatkan “Aku bertanya kepada al-Syafi’i; Apakah anda membaca Ummul Qur’an dibelakang imam pada rakaat akhir secara pelan? Maka Imam Syafi’i menjawab: ”Aku suka itu dan tidak mewajibkan atas hal itu”.

4)         Kata akrohu menurut Imam Syafi’i yang telah diterangkan di atas kadang juga menggunakan istilah lam uhibbu. Imam Syafi’i menggunakan istilah la ba’sa untuk sesuatu yang diperbolehkan tanpa kemakruhan dan kesunatan. Semisal Imam Syafi’i berkata tentang zakat fitrah “Tidak apa ketika melaksanakan zakat fitrah dan mengambilnya ketika dibutuhkan dan selainnya dari shodaqoh yang diwajibkan dan yang lainnya”. Dan beliau juga berkata “Seseorang yang menjual barang dari beberapa barangnya sampai pada masa dari beberapa masanya, dan pembeli telah menerimanya maka tidak apa ketika dia menjualnya pada orang yang membelinya dengan harga yang lebih rendah atau lebih tinggi, baik dengan hutang atau kontan dikarenakan barang yang di jual itu bukanlah barang yang telah di jual pertama kali”.

5)         Kata ja’iz digunakan untuk arti boleh tanpa ada kemakruhan atau kesunatan. Seperti beliau juga menggunakan istilah la khoiro fihi untuk sesuatu yang diharamkan dalam artian tidak di perbolehkan.

 

 

  1. I.       Dasar-Dasar Dalil Fiqh Madzhab Syafi’iyah

Dasar-dasar dalil syar’i yang di buat sandaran Imam Syafi’i terbatas pada empat hal, yaitu: al-Qur’an al-Karim, al-Sunnah al-Nabawiyyah, Ijma’ Ulama’ dan Qiyas. Madzhab Syafi’iyyah telah tersebar di berbagai negara seperti di Hijaz, Iraq, Mesir, Syam dan yang lainnya. Di berbagai Negara tersebut Imam Syafi’i sendirilah yang menyebarkannya dengan mengajarkan dan menyebarkan kitab-kitab karangan beliau, setelah itu para murid beliau lah yang bertanggung jawab mengajarkan kepada para pengikutnya  ketika beliau telah wafat.

  1. J.      Istilah-Istilah Nama Atau Sebutan Dalam Madzhab Syafi’iyyah

Istilah-istilah nama atau sebutan dalam madzhab Syafi’iyyah ada dua, yaitu: Pertama, al-Imam, yang dimaksudkan adalah Imam al-Haromain al-Juwainy. Beliau adalah Abdul Malik bin Abdillah bin Yusuf pengarang kitab al-Nihayah, al-Burhan dan yang lainnya, wafat pada tahun 478 H. Kedua, al-Qodli, yang dimaksudkan adalah al-Qodli Husain Abu Ali Muhammad bin Ahmad al-Marwazy, sebagian dari karangannya adalah kitab Syarkhu Talkhisi ibni al-Qodli dan kitab Syarkhun ‘Ala Furu’i ibni al-Khaddad, wafat pada tahun 462 H.

Al-Qodliyani lainnya yang di harapkan adalah: Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardy (wafat pada tahun 450 H) pengarang kitab al-Khawy al-Kabir dan kitab al-Ahkam al-Shulthoniyyah serta Abdul Wahid bin Isma’il bin Ahmad al-Ruyany yang wafat pada tahun 501 H. Sedangkan al-Syaikhoni yang di harapkan adalah: Abdul Karim Muhammad bin Abdul Karim al-Rofi’i Abu al-Qosim al-Quzwainy (wafat pada tahun 634 H) pengarang kitab al-Aziz Syarkhu al-Wajiz serta Yahya bin Syarof Abu Zakariyya al-Nawawi, beliau memiliki banyak karangan yang di antaranya adalah kitab al-Roudloh, Syarhu Muslim dan al-Tahqiq, wafat pada tahun 677 H ketika umur beliau sekitar empat puluh lima tahun. Al-Syuyuh yang diharapkan adalah Imam Nawawi, Imam Rofi’i dan Imam al-Shubki yaitu Taqiyyuddin Ali bin Abdul Kafi al-Shubki Syaihul Islam di masanya, wafat pada tahun 756 H.

Al-Syarih ketika di ucapkan menggunakan al-Syarih atau al-Syarih al-Muhaqqiq maka yang di harapkan adalah Jalaluddin al-Makhally Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim yang mensyarahi kitab al-Minhaj karangan Imam Nawawi serta mempunyai beberapa karangan yang sangat bermanfaat, beliau wafat pada tahun 874 H. Akan tetapi dalam kitab Syarkhu al-Irsyad kitab karangan al-Maziyyi, ketika di ucapkan al-Syarih maka yang di harapkan adalah al-Jaujary, beliau adalah Muhammad bin Abdul Mun’im al-Qohiry Syamsuddin (wafat pada tahun 889 H), sebagian dari peninggalannya adalah Syarhu al-Irsyad dan Tashilu al-Masalik Ila Umdati al-Salik Li Ibni al-Naqib. Syarih, ketika diucapkan istilah syarih tanpa menggunakan (al) maka yang diharapkan adalah salah satu dari pensyarah untuk kitab manapun yang ada, ini tidak ada bedanya baik yang ada pada kitab Tuhfatu al-Muhtaj atau yang lainnya, berbeda pendapat lagi dengan orang yang megatakan bahwasannya yang di harapkan adalah syuhbah.

Syaihuna, al-Syaih atau Syaihu al-Islam yang diharapkan adalah Zakariyya bin Muhammad bin Ahmad al-Anshory (wafat pada tahun 926 H), beliau mempunyai beberapa karangan yang menunjukkan keutamaannya diantaranya yaitu; Manhaj al-Tullab, Lubbu al-Usul. Syaihi ketika yang mengucapkan istilah ini adalah al-Khotib al-Syirbini maka yang di harapkan adalah al-Syihab Ahmad bin Ahmad al-Romly (wafat pada tahun 971 H). Dan yang di harapkan adalah al-Jamal al-Romli dengan ucapan “Orang tuaku telah berifta’ dengan ini dan sebagainya”.

Ketika Imam al-Syairozi dalam kitab al-Muhaddzab menggunakan istilah Abu al-Abbas maka yang di harapkan adalah Ahmad bin Suraij al-Bagdady Syaihu al-Syafi’iyyah di masanya, wafat di Baghdad pada tahun 306 H ketika umur beliau lima puluh tahun lebih enam bulan. Dan ketika al-Syairozi mengharapkan Abu al-Abbas bin al-Qodli maka beliau akan memberi catatan tersendiri.

Ketika menggunakan istilah Ibnu al-Qosh maka yang di harapkan adalah Ahmad al-Thobary,  beliau belajar fiqh dari Ibnu Suraij dan wafat pada tahun 335 H. Al-Qosh adalah seseorang yang menganjurkan untuk menyebutkan beberapa kisah. Ketika Imam al-Syairozi menggunakan istilah Abu Ishaq dalam kitab al-Muhaddzab maka yang di harapkan adalah al-Marwazy Ibrahim bin Ahmad murid dari Ibnu Suraij yang wafat pada tahun 340 H. Imam Nawawi berkata “Imam Syairozi tidak menyebutkan Abu Ishaq al-Isfiroyiny dalam kitab al-Muhaddzab”.

Ketika Imam Syairozi menggunakan istilah Abu Sa’id dalam kitab al-Muhaddzab maka yang di harapkan adalah al-Isthohry Abu Sa’id al-Hasan bin Ahmad yang wafat pada tahun 328 H. Beliau dan Ibnu Suraij adalah Syaihu al-Syafi’iyyah di negara Baghdad. Imam Nawawi berkata “Imam al-Syairozi tidak menyebutkan Abu Sa’id dari ahli fiqh selain beliau”. Abu Hamid, istilah ini di gunakan dalam kitab al-Muhaddzab untuk dua orang, yaitu: Al-Qodli Abu Hamid al-Marwazy Ahmad bin Basyar bin Amir yang wafat pada tahun 362 H serta Syeikh Abu Hamid al-Isfiroyiny Ahmad bin Muhammad yang wafat pada tahun 406 H. Imam Nawawi berkata setelah menyebut beliau berdua “…akan tetapi beliau berdua di sebut dengan catatan al-Qodli dan al-Syaih maka tidak akan ada keserupaan, pada kitab Muhaddzab tidak ada Abu Hamid selain beliau berdua tidak dari Ashab kita dan tidak dari yang lainnya”.

Abu al-Qosim di gunakan dalam kitab al-Muhaddzab dan yang di harapkan adalah empat Imam yaitu: al-Anmathy, al-Daroky, Ibnu Kajjin dan al-shoimary. Tidak di temukan dalam kitab al-Muhaddzab istilah Abu al-Qoshim selain nama keempat beliau tersebut. Abu al-Thoyyib dalam kitab al-Muhaddzab yang di harapkan adalah dua imam dari ahli fiqh Syafi’iyyah, yaitu: Ibnu Salamah dan al-Qodli Abu al-Thoyyib guru dari Imam Syairozi. beliau berdua ini di sebut dengan di sifati. Ketika dalam kitab al-Muhaddzab menyebutkan istilah al-Robi’ min Ashabina maka yang di harapkan adalah al-Robi’ bin Sulaiman al-Murody murid dari Imam Syafi’i. Di dalam kitab al-Muhaddzab tidak ada al-Robi’ selain beliau, tidak dari kalangan fuqoha’ atau yang lain kecuali pada masalah penyamaan kulit apakah bulunya suci. Dan yang di harapkan adalah al-Robi’ bin Sulaiman al-Jiyi.

Imam Nawawi berkata “Ketika aku mengucapkan kata ana pada al-Syarhu, Dzikri dan al-Qoffal maka yang aku maksud adalah al-Marwazy, dikarenakan beliau yang paling masyhur pada pemindahan (naqlu) madzhab………….”. Adapun penyebutan al-Syasyi lebih sedikit jika dibandingkan dengan al-Marwazy di dalam madzhab. Ketika yang diharapkan adalah al-Syasi maka Imam Nawawi akan memberi catatan. Al-Muhammadun al-Arbaah beliau adalah:

1)         Muhammad bin Nashr Abu Abdillah al-Marwazy, wafat pada tahun 294 H.

2)         Muhammad bin Ibrahim bin al-Mundzir, wafat pada tahun 309 H atau 310 H.

3)         Muhammad bin Jarir al-Thobary, wafat pada tahun 310 H.

4)         Muhammad bin Ishaq bin Khozimah, wafat pada tahun 311 H

            Keempat nama di atas telah sampai pada tingkatan mujtahid mutlaq, meskipun keluar dari pendapat Imam Syafi’i dalam beberapa masalah tapi secara keseluruhan beliau-beliau ini tidak keluar dari pendapat Imam Syafi’i. Maka mereka tetap di anggap sebagai Syafi’iyyah dari ushul mereka dikeluarkan. Al-Ashab yang di harapkan adalah beliau-beliau para pendahulu Syafi’iyyah, yaitu para Ashabul Aujuh secara keseluruhan. Jika di batasi dengan hitungan masa, beliau ini adalah para Syafi’iyyah yang muncul dari empat ratusan yang disebut dengan al-Mutaqoddimun, karena dekatnya beliau dengan kurun waktu yang di saksikan dengan keberhasilan (tanbih). Sedangkan al-Mutaahhirun yang di harapkan adalah mereka para ulama’ Syafi’iyyah setelah kurun keempat, atau bisa di katakan mereka adalah para ulama’ Syafi’iyyah yang datang setelah Imam Nawawi dan Imam Rofi’i.

            Perkataan Imam al-Rozi dengan kata al-Ashab ini membingungkan, karena tidak diketahui apa yang di harapkan dari Imam al-Rozi, apakah beliau mengharapkan al-Syafi’iyyah atau Asya’iroh. Hal tersebut di karenakan Imam al-Rozi sendiri adalah pengikut Syafi’iyyah juga pengikut Asya’iroh. Maka hal tersebut tidak akan menjadi jelas kecuali ketika Imam al-Rozi menjelaskan apa yang dimaksudkan di dalam kitabnya, misalnya beliau berpendapat pada masalah fiqh murni maka bisa di ketahui bahwa yang beliau maksudkan adalah al-Syafi’iyah atau jika beliau berpendapat pada masalah aqidah murni maka yang dimaksud adalah Asya’iroh. Adapun jika masalahnya adalah masalah fiqh yang ada sangkut pautnya dengan ilmu kalam, maka akan susah untuk menentukannya.

 

  1. K.    Kitab-Kitab yang di Bukukan Madzhab Syafi’iyah

Para ulama’ telah sepakat bahwa kitab-kitab yang dikarang oleh Imam Syafi’i dalam ilmu fiqh itu ada empat kitab, yaitu: al-Umm, al-Imla’, Muhtashoru al-Buwaity dan Muhtashoru al-Muzanny. Dan yang di maksudkan disini adalah kitab-kitab yang di tulis oleh Imam al-Buwaity dan Imam al-Muzanni tersebut dinisbatkan kepada Imam Syafi’I akan tetapi hanya dalam maknanya saja. Kemudian keempat kitab tersebut di ringkas oleh Imam al-Haromain al-Juwainy pada karangan beliau yang diberi nama al-Nihayah (keterangan ini sesuai dengan apa yang telah di jelaskan oleh ulama’ mutaahhirun). Akan tetapi jika kita mengambil pendapatnya al-Babily dan Ibnu Hajar beliau mengatakan bahwasannya kitab al-Nihayah adalah Syarah dari kitab Muhtashoru al-Muzanny dan kitab tersebut adalah kitab ringaksan dari kitab al-Umm.

Imam al-Ghozaly dengan kitabnya yang diberi nama al-Bashit, dimana kitab tersebut adalah ringkasan dari kitab al-Nihayah, yang kemudian beliau meringkas kitab al-Bashit menjadi kitab al-Wasith kemudian meringkasnya kembali menjadi kitab al-Wajiz, hingga akhirnya kitab al-Wajiz di ringkas menjadi al-Khulashoh. Setelah itu datanglah Imam al-Rofi’i yang juga meringkas kitab al-Wajiz karangan Imam Ghozali yang diberi nama al-Mukharror, akan tetapi ada keterangan sedikit di kitab al-Tuhfah yang menjelaskan bahwasannya kitab al-Muharror disebut Muhtashor (ringkasan) itu disebabkan lafadlnya hanya sedikit (ringkas), bukan karena termasuk ringkasan dari al-Wajiz.

Imam Nawawi meringkas kitab al-Muharror yang diberi nama al-Minhaj, kemudian kitab al-Minhaj tersebut di ringkas oleh Imam Zakariyya al-Anshory menjadi kitab al-Manhaj. Kitab al-Manhaj pun diringkas oleh Imam al-Jauhri menjadi kitab al-Nahj. Selain Imam Rofi’i yang membuat ringkasan dari kitab al-Wajiz beliau juga mengarang syarah dari kitab al-Wajiz menjadi dua kitab, yang satu kitabnya agak kecil dan beliau tidak memberi nama pada kitab tersebut sedangkan yang satunya agak besar yang beliau beri nama al-Aziz. Dari kitab al-aziz ini Imam Nawawi meringkasnya menjadi kitab al-Roudloh, kemudian kitab al-Roudloh diringkas oleh Imam Ibnu Muqri menjadi kitab al-Roudl, sampai akhirnya kitab al-Roudl ini di syarahi oleh Imam Zakariyya al-Anshori dalam kitab beliau yang diberi nama al-Asna.

Selain kitab al-Roudl yang di syarahi oleh Imam Zakariyya al-Anshori kitab ini juga di ringkas oleh Imam Ibnu Hajar yang diberi nama al-Na’im. Kitab ini sangat bagus sekali akan tetapi keberadaan kitab ini sudah tidak muncul di masa Imam Ibnu Hajar ketika masih hidup. Kitab al-Roudloh karangan Imam Nawawi juga di ringkas oleh Imam Ahmad bin Umar al-Muzajjad al-Zabidy yang diberi nama al-Ubab, kemudian kitab ini di syarahi oleh Imam Ibnu Hajar dalam kitabnya yang diberi nama al-I’ab, akan tetapi kitab al-I’ab ini belum ditulis sampai selesai.

Kitab al-Roudloh selain diringkas menjadi al-Ubab juga di ringkas oleh Imam al-Suyuti menjadi kitab al-Ghoniyyah, beliau juga membuat nadlomannya yang beliau beri nama al-Khulashoh akan tetapi kitab nadloman ini belum ditulis sampai selesai. Imam al-Quzwainy juga mengarang ringkasan dari kitab al-Aziz yang beliau beri nama al-Khawi al-Shoghir, kemudian kitab ini dinadlomkan oleh Imam al-Wardy dalam kitab Buhjah-nya. Kitab nadloman al-Buhjah disyarahi oleh Imam Zakariyya al-Anshori dengan dua kitab syarah. Setelah itu Ibnu al-Muqri membuat kitab ringkasan dari al-Khawi al-Shoghir menjadi kitab al-Irsyad, dan kitab ini kemudian disyarahi oleh Imam Ibnu Hajar dengan dua kitab syarah.

Imam Ibnu Hajar berkata “Setelah Imam Nawawi membuat karangan al-Roudloh datanglah beberapa ulama’ mutaahhirun (ulama setelah kurun Imam Nawawi) dan mereka berbeda-beda tujuan atas kitab-kitab yang telah ada, sebagian ada yang membuat karangan khasiyah (catatan pinggir) dan banyak ulama yang mempunyai gaya seperti ini, dan karangannya pun menjadi karangan yang besar-besar seperti contoh Khasyiyahnya Imam al-Adzro’i yang beliau kasih nama al-Mutawassit Baina al-Roudloh wa al-Syarhi, kitab ini berjumlah lebih dari tiga puluh kitab. Begitu juga Imam al-Asnawy, Imam Ibnu al-‘Ammad dan Imam al-Bulqiny beliau-beliau ini adalah para jagoan dari ulama’ mutaahhirin dengan tempatnya yang berkilau”.

Setelah beberapa kurun waktu datanglah Imam al-Zarkasyi, beliau adalah murid dari keempat imam diatas (Imam al-Adzro’i, Imam al-Asnawy, Imam Ibnu al-‘Ammad dan Imam al-Bulqiny). Beliau membuat karangan yang menjadi kumpulan dari ringkasan Khawasi guru-guru beliau yang diberi nama Khodimu al-Roudloh. Ketika kita mengetahui bahwasannya kitab-kitab dalam madzhab Syafi’iyyah selalu berkaitan satu dengan yang lain, seperti apa yang dikatakan oleh Dr. Muhammad Ibrahim Ali akan menjadikan ketenangan pada hati kita dan suatu kekaguman pada pembenaran kitab-kitab tersebut beserta pengarangnya pada madzhab Syafi’iyyah.

 Sumber Rujukan:

AlFathu alMubin fi Ta’tifi Mustalakhat alFuqoha wa alUsuliyin oleh: Prof. Dr. Muhammad Ibrahim al-Khafnawy

Al-Imam al-Syafi’I fi Madzhabihi al-Qodim wa al-Jadid oleh : Dr. Achmad Nahrowi abdu al-Salam al-Indonesy.

Tulisan yang lain :

Leave a comment

Berlangganan Tulisan ke Email

Ketik email anda untu mendapatkan update terbaru langsung ke email anda.