Lukisan Malam Dalam kegelisahan

Posted by on Jun 08, 2013

Lukisan Malam Dalam kegelisahanBahkan dalam pekatnya malam, larik-larik senyummu menjelma menjadi lukisan terang yang memenuhi koridor kegelisahanku. Bagaimana mungkin aku bisa beranjak pergi?

Bisa dibilang gila atau sedikit psikopat. Menyiksa diri karna mencintamu. Membelenggu hati di hamparan damba ruang kegelisahan yang hanya ada aku dan bayangmu. Sosok keduamu. Kukira aku masih bisa bahagia hanya dengan melihatmu. Menikmati sayatan rindu yang tanpa henti membentak setiap inci denyut nadiku. Mencintaimu adalah sebuah infitum di dunia keduaku.

***

Harap-harap cemas kutunggu renyah tawamu. Apakah kau akan datang malam ini? Kuharap begitu. Aku sudah tak sabar menangkapnya dan mengumpulkan dalam kotak Pandora.

Kulirik seberang jalan tempatmu biasa menginjakkan kaki turun dari kendaraan. Mengingat apa saja yang pernah kau lakukan di Salons de thé (kedai-kedai sejenis food courd yang menyajikan Teh, makanan ringan dan patisserie/Kue-kue). Berteman dengan segelas Chocochino dan beberapa makanan manis kesukaanmu. Hampir saja aku tersedak melihat sepasang pam-pam merah mendekat. Berharap itu bukan dirimu, walau sebenarnya sangat kuinginkan itu. Kuputuskan untuk bersikap sewajarnya. Tak acuh dan dingin.

***

Rentang senja segera hilang. Kupatut diri dalam istana sendiri. Sadarku makin nyata, aku tak pernah tahu siapa namamu. Hanya beberapa makanan yang kau pesan dan sepatu pam-pammu. Ah, tiba-tiba saja aku merindukan seorang Rei. Hanya dialah satu-satunya orang yang menyadari gerak-gerikku.

Dua minggu sebelum keberangkatannya ke Jerman, dia berkata kepadaku sambil berusaha mengais kebenaran dari mataku. Aku sadar itu. Dapat kurasakan is mendekat, lantai kayu berdecit seiring tiap langkahnya.

“Apalagi yang kau tunggu? Itu hanya akan menyakiti dirimu. Terombang-ambing dalam ketidakpastian. Itukah hidupmu? Caramu mencintai menunjukkan bagaimana kamu hidup, Ken.” Ujarnya. Aku hanya bergeming, ini yang kesekian kalinya dia membekapku. Aku tak pernah tahan melihat sorot mata dan perubahan nada bicaranya. “Let it flow, Man…” Lanjutnya.

“Bukan masalah hidup atau bagaimana mecintai. Mungkin hanya kau yang salah mengartikan, itu hanya kebetulan.” Gumamku

“Kebetulan yang berlanjut merupakan sebuah komponen dari kesengajaan, bukan?” Sebelah alisku naik satu oktaf, pengertian tak peduli bagi Rei.

Bon, peu importe. Bonne chance, les gars” (Oke, Tak masalah. Selamat berjuang, kawan.) Itulah kali terakhir yang Rei ucapkan tentang gerak diamku.

***

 Tersenyum, hujan akan segera tiba. Aku selalu menyukai dengung angin sesaat sebelum badai mendekat. Ribut gelagak yang meneyuarakan pertanda, dan satu cahaya putir mengakar yang membelah langit. Magis dan indah.

Lengkingan suara disamping mengagetkanku beberapa saat setelah petir dan halilintar bersatu. Gadis itu tak jauh disamping. Membekap mulut begitu sadar lengkingan suaranya. Itulah kali pertama aku benar-benar dekat, setelah mengantar gadis itu menuju tempat parkir mobilnnya. Sejenak, aku tak mempercayai indra pendengaranku. Diner avee la famille (acara makan bersama keluara di hari Minggu. Bila ada yang di undang, dianggap seperti keluarga sendiri) sebagai ucapan terimakasih untukku.

***

Elena. Itulah namannya. Ku tutup kata dalam barisan abjad semu. Bermaskotkan apa pesonamu? Hingga dalam gerimis senjapun senyummu mampu mempukat palung hatiku. Justifikasi itu benar, Rei. Aku mencintainya. Entah dimana keberanian itu bersembunyi, meski samar, kuraup bayangmu dalam sorot fatamorgana. Dan habis bersama reda hujan. Lagi.

***

Nanarku menatap layar ponsel. Mengeja sepuluh digit nomor belakang sambungan Negara. Aku benar-benar kalah. Bahkan sebelum berperang. Menyalahkan diri atas ketidakberdayaanku untuk mengungkapkan. Anganku terus terpaut dalam ajakan baiknnya malam itu. Bidikan-bidikan memori terekam perlahan membentuk sebuah sayatan beranada dentuman monokrom. Percikan emosi membawa serta hangat cerita kebersamaan sebuah persahabatan. Bercerita riang sejoli hatinya, cantik nan menarik. Tawa bahagia terpancar membahana.

Kembali terseret dalam malam itu. Jamuan ramah keluarganya menghangatkan panas-dingin hati. Suasana kekeluargaan yang kental. Nyaman. Kutelusuri bingkai-bingkai terpajang di dinding dan diatas laci. Satu sorot tak asing mengusikku untuk mendekat. Sedikit tak percaya, kusentuh bingkainya. Sosok Rei berada disana. Tumpukan tanya terjawab ketika sebuah suara lembut milik Ibunda Elena bersemayam dibelakangku. Rangkaian cerita mengalir begitu saja. Tentang Elena yang Astraphobia (ketakutan seseorang terhadap petir atau halilintar secara berlebihan), tentang Elena kecil dan tentang sesosok dalam bingkai itu. Rei. She was enganged!

***

Pilihan tetaplah sebuah pilihan. Sesakit apapun, biarkan semuanya tercetak nyata. Mengakhiri apa yang seharusnya di akhiri. Kau milih Rei, Elena…

Tak dapat kutahan betapa bahagianya Rei saat bercerita tentangmu. Ku temukan jawaban itu sendiri, Rei. Tak perlu lagi menunggu pengakuan tentang dambaku. Elenalah orang semu yang selalu kau ceritakan. Elenalah dambaku. Permisi, aku menepi. Percuma aku berkaca tentang dambaku pada buramnya kaca yang retak. Semoga asa, cinta dan bahagia menderas di esok hari untukmu. Sahabat dan Dambaku. Bersyukur atas diamku. Aku janji takkan menyeruakkan rasaku pada kalian. Dengan begitu jalinan ini akan terus berlanjut.

Walau ku tahu, sejauh ku berlari, tetap saja lekang bayangmu menengahi ruang kesenduanku. Tak pernah sedikitpun beranjak. Sementara disudut koridor hati, namamu masih tersimpan rapid an terjaga.

***

Aku bisa berkaca tentang dambaku yang merajuk senyap. Memadukan hidrogen dan cahaya, sehingga membuatnya menjadi bintang.

Jika kau ingin tahu, kau dapat melihatnya kala malam datang, atau bersama bersama rintik hujan. A plus skor yang tercantum bila kau dapat rasakannya bagai petasan di angkasa. Atau bahkan kedamaian yang mendekapmu dalam-dalam.

Karna tak ada yang lebih tabah dari bulan Januari. Di rahasiakannya rintik rindu pada pohin berbunga itu. Di biarkannya tumpukan Tanya dalam gudang rahasia yang menampakkan teka-teki serba tak terduga. Hingga ku rasa kau menjauh.

***

 Ku buka lagi kotak penuh dengan kertas-kertas kecil. Ku baca lagi goresan tanganku.

“Je n’aime pas!! On ne sait jamais, je t’aime, Ken. Que dirinz-vous?” (Aku tidak mencintainya!! Kamu nggak pernah tahu, aku mencintaimu, Ken. Bagaimana denganmu?) gumamku dalam hati. Bersama senja, kucatat lagi terpasungnya diri dalam raring matamu. “Ken, tolong aku. Aku tak tahan dengan perjodohan ini.” Rengekku.

Aku. Elena. Terjepit diantara pengingkaran dan realitas perasaan. Tuhan, bantu aku menemui rumah hati seorang Ken.

 

Oleh: Nur Indah Qurrota A’yun (IV B)

Tulisan yang lain :

  • Sekilas Tentang Sastra ProfetikSekilas Tentang Sastra Profetik Ketika membaca suatu karya sastra khususnya puisi, mayoritas penikmat sastra mendambakan adanya suatu nuansa keindahan setelah membaca karya sastra. […]
  • Lubang di Surga Negeri IniLubang di Surga Negeri Ini Lubang di Surga Negeri Ini (Imam Baihaqi, XI IPA 1 MAN Tambakberas Jombang)   Ada lubang di surga negeriku Tak ada lagi kata penyair yang […]
  • Seribu Puisi Untuk MadrasahSeribu Puisi Untuk Madrasah Siswa jurusan Bahasa punya gawe besar yaitu BBS (Bulan Bahasa dan Sastra). BBS kali ini dilaksanakan tanggal 11—12 Januari 2013 dihadiri dua […]
  • Negeri DagelanNegeri Dagelan Karena terlalu banyak mendongeng Penonton jadi geleng-geleng Penipu yang terlalu hobi mencoleng Penonton yang hanya bisa mendeleng Bak […]
  • Dua Puluh Tahun Lalu, Aku Masih Bersama BudayakuDua Puluh Tahun Lalu, Aku Masih Bersama Budayaku Dua Puluh Tahun Lalu, Aku Masih Bersama Budayaku(M. Kholid Umar Al Kharori, XI IPA 1 MAN Tambakberas Jombang) Dua puluh tahun lalu,Mataku mesra […]

Leave a comment

Berlangganan Tulisan ke Email

Ketik email anda untu mendapatkan update terbaru langsung ke email anda.