Pondok Thoriqot Mbah Usman

Posted by on May 28, 2013

Masjid Demak

Masjid Demak

Mbah Usman, salah satu menantu Mbah Soichah yang mendirikan pondok Thoriqot adalah putra dari Mbah Hasan yang berasal dari Demak dn kononen masih keturunan Raden Patah, pendiri kerajaan Demak Bintoro, Mbah Hasan adalah seorang yang haus akan ilmu, Suatu saat dia bermimpi bertemu dengan seseorang yang menyuruhnya pergi kea rah timur selatan. Mimpi tersebut sangat mempengaruhi pikiran Mbah Hasan, karena dating berulang-ulang.

Tanpa dibekali informasi yang cukup, Mbah Hasan menuruti perintah dalam mimpi yang sangat dia percayai kebenarannya tersebut. Sepanjang hidupnya mbah Hasan terus mencari arah seperti yang ditunjukkan dalam mimpinya itu. Bertahun tahun kemudian sampailah dia di padepokan yang dipimpin Mbah Soichah. Saat itu usianya sudah agak lanjut, sehingga ketika bertemu mbah Soichah dia merasa terlalu tua untuk memulai menimba ilmu, Namun hasratnya untuk berguru pada mbah Soichah sangat tinggi, sehingga dia harus mencari siasat lain agar tidak sia-sia hanya karena terlambat belajar. Dia kemudian memutuskan untuk menikah agar penerusnyalah yang akan melanjutkan cita-citanya.

Sepanjang pernikahan dan ketika nyai Hasan mengandung, kedua suami istri ini melakukan tirakatan, berpuasa selama 22 tahun. Suatu saat, ketika nyai Hasan sedang memasak nasi dalam tungku, nampaklah benda berkilau di dasar tungku. Setelah diamati oleh mbah Hasan, nampaklah bongkahan-bongkahan emas di dasarnya. Tanpa pikir panjang, mbah Hasan mengambil cangkul dan menggali tanah untuk mengubur emas tersebut. Sambil menggali beliau meratap, “…Bukan ini duh Gusti, yang hamba cari. Bukan ini..”.

Ya, yang di harapkan mbah Hasan sesungguhnya adalah keturunan yang bisa melampiaskan dahaganya akan ilmu pengetahuan. Kemudian lahirlah anak laki-laki yang diberi nama Usman. Usman kemudian di titipkan kepada mbah Soichah untuk di didik secara langsung. Harapan mbah Hasan terwujud. Terbukti kemudian pemuda Usman menjadi salah seorang murid terpandai sehingga mbah Soichah merasa perlu mengangkatnya sebagai menantu. Mbah Soichah sendiri karena tidak punya putra laki-laki, beliau mewariskan padepokannya kepada para menantunya.

Ketika mbah Soichah masih memangku padepokan, sebenarnya ada tiga gothakan (kamar/gubug) yang menggambarkan symbol tertentu. Pertama, kamar yang menekankan pada pendidikan syari’at, kedua menekankan pendidikan kanuragan dan ketiga lebih pada aspek tasawuf. Karena itu pondok kyai Soichah ini juga terkenal dengan sebutan podok telu. Kamar terakhir inilah yang kelanjutannya diwariskan pada mbah Usman, yang kemudian memindahkan lokasi pengembangan pendidikannya ke wilayah selatan (dekat makam mbah Usman sekarang,red) yang kelak dikenal dengan nama pondok Thoriqot.

Dari sisi thoriqot, mbah Usman juga pernah di asuh langsung oleh mbah Wahab dari Jorosan yang mengamalkan thoriqot Qodiriyah wa Naqsabandiyah. Sebenarnya mbah Usman mempunyai keturunan lima orang. Halimah (Winih) diperistri Asy’ari, Nyai Jebul disunting Abdulloh dari Kapas, Nyai Tandur di peristri Qosim dari Ponorogo, Fadhil dan Nyai Hannah yang disunting Aqib. Kepada putranya, Fadhil, mbah Usman berharap keberlangsungan pondok yang dia didirikan. Namun Fadhil merasa keberatan. Di sisi lain, mabah Usman sendiri pernah bermimpi sedang memperbaiki masjid, saat itu beliau minta bantuan Fadhil untuk memperbaiki, tetapi putranya tersebut tidak bisa membantu. Justru yang terdengar adalah suara bahwa yang bisa membetulkan bangunan itu adalah Abdulloh,menantunya.

Kondisi fisik Abdulloh yang saat itu lumpuh tidak menyurutkan niat Abdulloh memenuhi panggilan mbah Usman di Tambakberas. Tanpa mau di bantu siapapun Abdulloh berjalan ngesot dari Kapas ke Tambakberas. Dan ketika mbah Usman meninggal dunia pengembangan pondok thoriqot pindah ke Kapas. Sementara sisa yang masih ada sebagian pindah ke sebelah barat sungai bergabung dengan pondok mbah Said.

*diolah dari wawancara dengan Gus Fatkhulloh Malik, Gus Hasyim (alm) serta KH. Jamaluddin Achmad, nopember 2003*

Tulisan yang lain :

  • JEJAK PANGERAN DIPONEGORO DI PESANTREN TUAJEJAK PANGERAN DIPONEGORO DI PESANTREN TUA JEJAK PANGERAN DIPONEGORO DI PESANTREN TUAOleh : Ninid Alfatih25 tahun sejak penangkapan Pangeran Diponegoro oleh De Kock, pahlawan Goa Selarong ini […]
  • Lumpang Obat, Tongkat Komando dan Benda Bersejarah Siap DipamerkanLumpang Obat, Tongkat Komando dan Benda Bersejarah Siap Dipamerkan Sejumlah foto masa lalu akan dipamerkan pada perhelatan peringatan 1 adad madrasah dan 191 tahun Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang […]
  • Nurani Sang KyaiNurani Sang Kyai Mbangkong di waktu shubuh bagi sebagian santri ada yang telah menjadi tradisi, Ndak tahu kenapa, apa memang waktu seperti itu merupakan waktu yang […]
  • Cari MenantuCari Menantu Alkisah pada suatu hari datang seorang tamu kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Dengan maksud supaya dicarikan jodoh bagi anak perempuannya. Dengan nada […]
  • Sakral Bersama Habib MuhammadSakral Bersama Habib Muhammad Jombang hari kamis malam jum’at halaman yayasan pondok pesantren Bahrul ‘Ulum Tambakberas Jombang tidak seperti malam-malam sebelumnya, malam itu […]

Leave a comment

Berlangganan Tulisan ke Email

Ketik email anda untu mendapatkan update terbaru langsung ke email anda.