Periode Pengembangan – Sejarah Pondok Pesantren Bahrul Ulum

Posted by on May 26, 2013

PERIODE PENGEMBANGAN PERTAMA

Setelah kyai Utsman dan kyai Sa’id wafat, penerus tampuk pimpinan pesantren adalah kyai Hasbulloh, putra kyai Sa’id. Sedangkan pesantren kyai Utsman tidak ada yang meneruskan karena beliau tidak mempunyai putra laki-laki. Akhirnya sebagian santri kyai Utsman diboyong oleh menantunya yang bernama Kyai Asy’ari (ayah dari KH. Hasyim Asy’ari) ke desa Keras yang nantinya berkembang menjadi pondok pesantren Tebuireng sekarang. Sedangkan sebagian yang lain diboyong ke pesantren sebelah barat sungai dijadikan satu dibawah pimpinan kyai Hasbulloh.

Kyai Hasbulloh adalah seorang yang kaya raya dan dermawan, beliau memiliki tanah pertanian yang sangat luas. Dari hasil pertanian ini beliau banyak memiliki gudang-gudang beras yang menyebar dimana-mana bagaikan tambak. Konon karena hal itu daerah ini disebut dusun Tambakberas dan pondok pesantren beliau dikenal dengan sebutan Pondok Tambakberas.

Di bawah pimpinan kyai Hasbulloh pondok pesantren berkembang sangat pesat, dan guna kelanjutan pondok pesantren yang diasuhnya kyai Hasbulloh banyak mengirimkan putra-putrinya untuk belajar di pesantren, bahkan putra beliau yang tertua Abdul Wahab, dikirim ke Makkah untuk menuntut ilmu.

PERIODE PENGEMBANGAN KE DUA (1914)

Pada tahun 1914 kyai Abdul Wahab Hasbulloh kembali dari tugas belajarnya di tanah suci Makkah. Sejak saat itu kyai Abdul Wahab mulai melakukan pembaharuan pondok pesantren Tambakberas. Beliau merubah sistem pendidikan halaqoh menjadi sistem pendidikan madrasah. Dengan sistem pendidikan madrasah yang dikembangkan, pondok pesantren Tambakberas berkembang semakin pesat, dan pada tahun 1915 kyai Abdul Wahab mendirikan madrasah yang pertama (terletak disebelah barat masjid, sekarang dibangun gedung Yayasan PPBU), madrasah tersebut diberi nama madrasah Mubdil Fan.

Pada tahun 1926 kyai Hasbulloh wafat. Maka pesantren ini dilanjutkan oleh kyai Abdul Wahab, dengan dibantu oleh kedua adiknya yaitu kyai Abdul Hamid dan kyai Abdurrohim yang juga baru kembali dari studinya di tanah suci Makkah. Dalam manajemen pesantrennya, kyai Abdul Hamid lebih berkonsentrasi terhadap pengelolaan pondok, sedangkan kyai Abdurrohim bertanggungjawab mengelola madrasah. Kyai Abdul Wahab lebih banyak berkiprah di kancah organisasi atau lembaga sosial keagamaan.

Lembaga yang didirikan kyai Abdul Wahab di antaranya adalah NAHDLATUL WATHON. Sebuah lembaga pendidikan Islam (madrasah) yang didirikan pada tahun 1916. Selain itu, pada tahun 1918, beliau mendirikan NAHDLATUL TUJJAR (kebangkitan saudagar). Masih pada tahun yang sama (1918), kyai Abdul Wahab merintis forum diskusi keagamaan yang bernama TASYWIRUL AFKAR yang berpusat di Surabaya pada waktu itu.

PERIODE PENGEMBANGAN KE TIGA

Pada tahun 1942 kyai Abdul Hamid dan kyai Abdurrohim memanggil keponakannya yang bernama kyai Abdul Fattah menantu kyai Bisri Syansuri Denanyar. Sebagai upaya regenerasi pengelolaan madrasah diserahkan kepada kyai Abdul Fattah.

Pada tahun 1943 kyai Abdurrohim wafat, tugas-tugas beliau diteruskan oleh kyai Abdul Fattah. Dibawah pimpinan kyai Abdul Fattah, Madrasah berkembang sangat pesat, mengingat semakin bertambahnya jumlah santri, kyai Abdul Fattah mendirikan gedung madrasah di dekat rumahnya yang kemudian oleh kyai Abdul Wahab, madrasah tersebut diberi nama Madrasah Ibtida’iyyah Islamiyyah (MII) dan kemudian berganti nama Madrasah Ibtida’iyyah (MI). Disamping itu pada tahun 1951 kyai Abdul Fattah dengan restu kyai Abdul Wahab, mendirikan pondok pesantren putri Al-Fathimiyyah, serta pada tahun 1956 mendirikan Madrasah Mu’allimin Mu’allimat 4 Tahun.

Pada tanggal 06 Juni 1956 kyai Abdul Hamid wafat, maka pengasuh pondok pesantren Tambakberas dilanjutkan oleh kyai Abdul Fattah, sedangkan urusan madrasah diserahkan sepenuhnya kepada kyai Al-Fatih putra sulung kyai Abdurrohim. Dibawah pimpinan kyai Al-Fatih, madrasah berkembang semakin pesat, hingga pada tahun 1964, Madrasah Mu’allimin Mu’allimat 4 Tahun ditambah masa studinya menjadi 6 Tahun dan berubah nama menjadi Madrasah Mu’llimin Mu’allimat Atas.

Pada tahun 1965 kyai Abdul Wahab memberi nama pondok pesantren ini dengan nama PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM. Pada tanggal 29 Desember 1971 atau 11 Dzulqo’dah 1391, kyai Abdul Wahab pulang ke rahmatulloh. Pimpinan PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM diteruskan sepenuhnya oleh kyai Abdul Fattah dengan dibantu oleh para dzurriyah Bani Hasbulloh yang lain.

Pada tahun 1968 kyai Abdul Wahab mulai merintis Perguruan Tinggi yang diberi nama Al-Ma’had Al-Aly dengan tanah yang sekarang ditempati MTs BU, MA-WH, dan MAI BU. Belum sampai terwujud menjadi sebuah perguruan, beliau sudah meninggal. Namun cita-cita mulia ini akhirnya dilanjutkan oleh generasi penerus pondok dengan didirikannya perguruan tinggi yang sekarang bernama STAI Bahrul Ulum.

Setelah kyai Abdul Fattah wafat tahun 1977, tampuk pimpinan PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM, dilanjutkan oleh KH. M. Najib Abd. Wahab, L.ML. Beliau memiliki reputasi cemerlang dalam membawa lembaga PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM pada pentas nasional. Selain pernah menjabat sebagai Ro’is Syuriah PWNU, pada tahun 1985 beliau bersama pengasuh yang lain juga menghidupkan Al-Ma’had Al-Aly menjadi Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) dengan menunjuk Drs. KH. Moh. Syamsul Huda As, SH.,M.HI sebagai ketua. Dalam kapasitas sebagai ketua Robithotul Ma’ahid (Asosiasi Pondok Pesantren Nahdlatul Ulama), KH. M. Najib Abd. Wahab. L.ML menyelenggarakan Usbu’ul Ma’ahid (Pekan Pesantren se-JawaTimur).

KH. M. Najib Abd. Wahab. L.ML dalam mengelola Pondok putra selain melalui jalur formal pengurus, juga melalui ro’is khos (ketua komplek). Beliau mengamanatkan kepengurusan masjid kepada KH. Moh. Sholeh Abd. Hamid sebagai ketua ta’mirnya. Beliau menyelenggarakan pengajian sentral tiap Senin malam Selasa hingga wafatnya pada tahun 1987.

PERIODE PENGEMBANGAN KE-4 (KEPEMIMPINAN KOLEKTIF)

Seiring dengan perkembangan Pondok Pesantren Bahrul Ulum yang semakin pesat dari tahun ke tahun, baik jumlah santri maupun lembaga-lembaga pendidikan formal yang ada di dalamnya, maka untuk memaksimalkan potensi yang sudah ada diperlukan suatu manajemen kepemimpinan pondok pesantren yang konstruktif, jelas, terprogram dan terarah. Berangkat dari ide dasar itulah maka kemudian lahir pemikiran untuk membagi manajemen kepemimpinan pondok pesantren menjadi;

  1. Majelis Pengasuh, berfungsi sebagai lembaga yang memiliki otoritas atau pemegang kebijakan tertinggi.
  2. Pengurus Yayasan, berfungsi menjalankan semua program pengembangan dan pemberdayaan pendidikan pada lembaga pendidikan yang berada dibawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum.
  3. Dewan Pengawas, berfungsi mengawasi dan memberikan pertimbangan kepada pengurus yayasan dan memberikan masukan kepada Majelis Pengasuh. Dibentuknya dewan pengawas dalam struktur manajemen Pondok Pesantren Bahrul Ulum sejak tahun 2002.

Tulisan yang lain :

comment closed

Berlangganan Tulisan ke Email

Ketik email anda untu mendapatkan update terbaru langsung ke email anda.