KH. Moh. Salim

Posted by on Jun 25, 2013

KH. Moh. Salim

Hidup adalah pengabdian, itulah motto KH. Moh. Salim, atau dikalangan siswa-siswi bahkan alumni MI Bahrul Ulum lebih akrab di sapa dengan Mbah Salim, kenapa? Karena di usianya yang sudah menginjak 76 tahun, kyai yang sangat di kagumi kesabarannya ini masih tetap aktif untuk mengabdikan ilmunya di Bahrul Ulum, suara serak dan tak jarang diselingi dehem-dehem masih melekat dibenak para muridnya, sehingga tampaknya usia bagi Mbah Salim bukan merupakan alasan untuk tidak aktif berkecimpung di dunia pendidikan, mengajar adalah amanah yang harus dikerjakan, itulah prinsip, tutur beliau mengawali cerita.

Mbah Salim lahir pada tahun 1928, beliau memulai pendidikannya seiring dengan masa penjajahan, mulai dari masa Belanda, Jepang hingga PKI bercokol di negri ini. Pada saat itu perjuangan memperoleh pendidikan tidaklah semulus seperti sekarang, diperlukan waktu 8 tahun untuk bisa menyelesaikan pendidikan setingkat Madrasah Ibtidaiyyah, dan 2 tahun untuk merasakan pendidikan persiapan atau jaman Mbah Salim dikenal dengan istilah shifr ula dan shifr tsani. Dulu untuk bisa mengenyam pendidikan madrasah harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi jika tidak ingin diberondong peluru, waktu pembelajaran pun tidak menentu, bahkan tak jarang, sekolah di liburkan dalam jangka waktu yang teramat lama, dan bisa lebih dari dua tahun, kenang Mbah Salim. Hal itu terjadi karena sekolah tak bisa dilepaskan dari kondisi negara yang belum stabil dan tengah berjuang merebut kemerdekaan.

Sekitar tahun 1945, Mbah Salim baru bisa merasakan pendidikan kembali, dan melanjutkan sekolah di madrasah yang dulu di liburkan, akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena pada tahun 1948, negara kembali dalam keadaan guncang dengan kenjadian pemberotakan dan pembunuhan PKI, sekolah pun akhirnya di liburkan kembali. Mbah Salim baru bisa menyelesaikan pendidikannya pada tahun 1951 di MI Tambakberas, guru beliau pada saat itu diantaranya, KH. Abdul Fattah Hasyim, KH. Abdul Hamid, KH. Abdul Jalil, KH. Husni dan KH. Chudlori Irfan.

Setelah beliau lulus MI, beliau langsung di minta KH. Fattah untuk mengabdi di almamaternya, MI Tambakberas dengan bidang ajar Nahwu, Tajwid dan Khot, saat itu jumlah murid baru 35 anak, diantara teman mengajar beliau adalah pak Hamid, pak Zainuri, pak Sholeh dan guru beliau sendiri, KH. Chudlori Irfan.

Pada tahun 1953, beliau di utus KH. Fattah dan KH. Abdul Jalil untuk mengajar Fiqh dan Tarikh Islam di MI Kauman Lor, di saat yang sama beliau juga ditugaskan mengajar di MI Berat Kulon Mojokerto, baru kemudian pada tahun 1954 beliau di minta mengajar kembali di MI Tambakberas.

Ketika disinggung pengalaman hidupnya, beliau seolah teringat kembali pada kejamnya masa-masa penjajahan, mata sayu Mbah Salim seketika berubah serius, dari bibirnya mengalir cerita perih menyayat hati beliau, Kyai kelahiran Bulak, Mojokrapak Kecamatan tembelang ini menggambarkan betapa tragisnya ketika ada tujuh orang tewas di belakang rumahnya tanpa ada alasan yang jelas, dan tiga anak tak berdosa mati dibantai Belanda, hingga bibir brliau bergetar tak mampu meruskan ceritanya, hanya berdoa semoga kejadian tersebut tak terulang kembali.

Suami dari ibu Machwiyah, ustadzah MI Bahrul Ulum ini tercatat sebagai salah seorang anggota PNS angkatan pertama pada masa KH. Alfatih Abdur Rohim. Hal itu dilakoninya sebagai konsekwensi tugasnya sebagai pengajar, lagi pula saat itu keanggotaan PNS tidaklah sesulit sekarang. Beliau menuturkan, saat itu beliau dan teman-teman mengajarnya disodori formulir, dan urusan selanjutnya tidak begitu banyak makan prosedur dam tahu-tahu beliau sudah tercatat sebagai seorang PNS, cerita beliau mengakhiri pertemuannya.

Beliau meninggalkan kita pada tahun…. usia beliau saat itu …. semoga kita semua mampu meniru dan meneruskan pengabdian dan perjuangan beliau, amin.

Tulisan yang lain :

  • KH Abd Wahab Chasbullah AWARD 2014KH Abd Wahab Chasbullah AWARD 2014 Sosok dan kiprah KH A Wahab Chasbullah dalam perjuangan kemerdekaan dan pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama telah diakui banyak kalangan. Kiai yang […]
  • Haul ke 43Haul ke 43 Haul ke-43 al maghfurlah KH. Abd. Wahab Chasbullah akan diselenggarakan pada: Hari/Tanggal : Senin-Ahad, 1 s/d. 6 September 2014 Tempat : PON. […]
  • Satu Arti Beda CaraSatu Arti Beda Cara Alkisah, pada zaman dahulu, di sebuah negeri dongeng, hidup seorang Raja yang terkenal sebagai seorang yang bertangan besi dan tidak mengenal ampun. […]
  • Website Resmi Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas JombangWebsite Resmi Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Website Resmi Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang Masih Proses Perbaikan Website
  • JEJAK PANGERAN DIPONEGORO DI PESANTREN TUAJEJAK PANGERAN DIPONEGORO DI PESANTREN TUA JEJAK PANGERAN DIPONEGORO DI PESANTREN TUAOleh : Ninid Alfatih25 tahun sejak penangkapan Pangeran Diponegoro oleh De Kock, pahlawan Goa Selarong ini […]

Leave a comment

Berlangganan Tulisan ke Email

Ketik email anda untu mendapatkan update terbaru langsung ke email anda.