Nurani Sang Kyai

Posted by on May 28, 2013

KH. Abdul Fattah Hasyim

KH. Abdul Fattah Hasyim

Mbangkong di waktu shubuh bagi sebagian santri ada yang telah menjadi tradisi, Ndak tahu kenapa, apa memang waktu seperti itu merupakan waktu yang sungguh menggugah selera untuk berasyik masyuk dengan bantal. Adalah Kyai Fattah Hasyim, tiap waktu sholat shubuh beliau selalu berkeliling dari kamar ke kamar membangunkan para santri untuk sholat berjama’ah. Adalah Sarkam, santri yang berangasan dan gemar olah kanuragan ini kesulitan bangun shubuh karena kecapekan habis latihan gelut waktu malamnya.

Saat Kyai Fattah keliling dari kamar ke kamar hingga tiba giliran masuk kamarnya Sarkam, beliau membuka pintu kamar dan membangunkan para santri, “Shubuh… Shubuh…”, sambil mengetuk-ngetuk pintu. Seisi langsung njenggirat dan berlari ke kamar mandi. Lain halnya Sarkam, ia sama sekali tidak bergeming. Kiai Fattah mendekatinya dan nggebloki dengan sorban. Sarkam langsung njingkat dan pasang kuda-kuda seakan bersiap menghadapi serangan lawan. Masih belum sadar bahwa orang yang berdiri dihadapannya adalah Kyai Fattah yang ia lihat tampak diam saja, ia segera mencengkeram kra baju beliau dan mengepalkan tangannya seperti hendak memukul. Dan ketika melihat “lawan”nya diam saja tanpa melakukan perlawanan ia segera membuka matanya yang memang belum melek seratus persen.

Saat ia buka matanya, O….. ia kaget bukan kepalang, ia langsung “melesat” menuju kamar mandi. Dan saking kagetnya tanpa sadar saat ia melepaskan cengkeraman tangannya yang tanpa disadari membuat tubuh Kyai Fattah terdorong ke belakang , hamper jatuh. Kiai Fattah hanya tersenyum saja…

Semenjak kejadian itu Sarkam merasa gelisah bukan main, antara malu, takut, rasa bersalah, berputar-putar memenuhi benaknya, hingga ia tak berani sedikitpun menampakkan batang hidungnya dihadapan Sang Kyai.

Kyai Fattah menyadari akan keadaan santrinya itu. Paginya ia memanggil sarkam.

Semakin gundah gulana hati Sarkam mendapatkan panggilan itu, “Pasti saya bakal dimarahi habis-habisan…”, pikirnya.

Setibanya Sarkam berada dihadapan beliau, Beliaupun langsung berkata sambil tersenyum, “Ayo, Kang, aku sampean kancani mangan bareng, iki maeng tas oleh rejeki pitik panggang utuh, ora entek yen tak pangan ijen… (Ayo, Kang, sampean temani saya makan bareng ya…, barusan dapat rejeki ayam pangang utuh, ndak habis kalau saya makan sendiri).

Sarkam hanya bisa ndlahom…

Lahu Al Faatihah….

Oleh : (Gus Jabar)

Tulisan yang lain :

Leave a comment

Berlangganan Tulisan ke Email

Ketik email anda untu mendapatkan update terbaru langsung ke email anda.