Santri Dalam Politik

Posted by on Jun 06, 2013

Santri Dalam PolitikDalam dunia perpolitikan, warga negara diharuskan memiliki jiwa bermodal agama yang kuat, memiliki peranan yang bijaksana, jujur, tegas, dan bertanggung jawab. Selain itu, juga harus memiliki siasah. Seorang santri harus mengerti perkembangan dan pergerakan politik Indonesia, karena perolehan yang didapat akan lebih nyata dan konkrit. Jika santri tidak peduli dengan bangsa, maka dia tidak cinta dengan bangsa ini, dan hal itu adalah salah. Dalam diri santri bukan hanya ilmu keagamaan dan pengetahuan umum yang didapati, melainkan juga siasah atau disebut dengan mantiq. Orang hidup itu tidak lepas dari siasah. Dalam rumah tangga-pun membutuhkan adanya siyasah.

Selain belajar ilmu agama dan umum, santri juga harus care terhadap lingkungan masyarakat (ekonomi, social, budaya, dll). Disamping mengajar, santri juga harus bisa mengayomi masyarakat. Karena dengan adanya rasa peduli, lambat laun rasa cinta tanah air juga akan tumbuh dalam benak santri. Dan jika santri sudah cinta tanah air, maka santri akan mencoba untuk memajukan bangsa, mengharumkan nama bangsa dan mencetak pemuda-pemudi yang berkualitas. Secara tidak langsung, hal itu membuat santri turut berkecimpung terhadap dunia perpolitikan. Karena dalam politik kita bisa memilih pemimpin yang ideal, yang dipandang mampu untuk mengemban rakyat-rakyatnya.

Seperti halnya Mbah Wahab mengenalkan politik kepada putera-puterinya. Beliau di setiap acara selalu mengajak putera-puterinya. Hal itu di lakukan karena beliau ingin menunjukan kepada putera-puteri beliau bahwa “Ini lho perjuangan yang Abah lakukan untuk membesarkan NU”. Jadi, beliau tidak ‘menyuruh’ putera-puterinya untuk ikut politik, tapi beliau langsung ‘mengajak’. Dengan pendidikan yang Mbah Wahab beri kepada putera-puterinya, putera-puteri beliaupun sekarang banyak yang dicari-cari untuk dijadikan pemimpin. Sebab apa? Itu semua disebabkan oleh aktifnya mereka dalam sebuah organisasi.

Perbedaan dunia politik dulu dengan sekarang terletak pada rasa simpatik pada setiap individu. Dulu-tahun 80-an, para kader memang sangat simpatik dengan partai dan rakyat. Rakyatnya pun juga dapat memprioritaskan “Mana sih pemimpin yang cocok untukku?”. Tapi sekarang, semua itu telah dirombak habis. Di era Globalisasi ini, mengedepankan kader-kader partai atau tokoh masyarakat sudah tidak diprioritaskan lagi. Sekarang banyak kader yang di pilih bukan dari kepandaiannya dalam memimpin sesuatu, melainkan dari ke-familiar-an kader tersebut.

Banyak artis yang menjadi bupati. Itu dikarenakan harumnya nama beliau di lingkungan masyarakat. Mereka-para kader sekarang memang mentaati tapi kurangnya rasa cinta. Beda dengan kader-kader partai dulu , mereka akan membela mati-matian negara ini.

Banyak yang mengatakan bahwa politik itu kotor, banyak koruptor berkeliaran di dunia politik. Sebenarnya, yang kotor itu manusianya. Manusia yang tidak berbekalkan ilmu agama akan dengan mudahnya mengambil hak-hak rakyat. Berbeda dengan manusia yang telah dibekali ilmu agama sebelumnya (baca:santri), mereka akan lebih amanah dan jujur, sehingga tak akan mencoreng nama baik politik. Ingat! Seorang tokoh bisa jadi mulia karena dia berpegang teguh terhadap agama-yang mana itu sudah ada dalam diri seorang santri. Kita harus bangga! Insya Allah akan jauh dari yang namanya korupsi dan hal-hal negative yang ada pada politik. (Oleh: Nyai. Hj Machfudhoh Aly Ubaid)

Tulisan yang lain :

  • Peran Pesantren Membangun NegeriPeran Pesantren Membangun Negeri Berangkat dari permasalahan Negara yang begitu menjelimet, berbelit dan begitu sukar untuk diselesaikan, suatu masalah yang digenggam Negara yang […]
  • Nurani Sang KyaiNurani Sang Kyai Mbangkong di waktu shubuh bagi sebagian santri ada yang telah menjadi tradisi, Ndak tahu kenapa, apa memang waktu seperti itu merupakan waktu yang […]
  • Sejarah Nama dan Lambang Pondok Pesantren Bahrul UlumSejarah Nama dan Lambang Pondok Pesantren Bahrul Ulum SEJARAH NAMA DAN LAMBANG PONDOK PESANTREN BAHRUL ULUM Seperti telah disinggung sebelumnya, sejarah panjang pondok pesantren ini, sejak awal […]
  • Seminar GodhekSeminar Godhek Jarum jam sudah menunjukkan pukul 23.00 lebih, dalam sebuah ruangan yang menyerupai sebuah aula itu, yang terletak di pojok antara deretan bangunan […]
  • Di Tambakberas, Khofifah Ingatkan Bahaya Pornografi dan MirasDi Tambakberas, Khofifah Ingatkan Bahaya Pornografi dan Miras Jombang – Dalam pandangan Menteri Sosial (Mensos), Indonesia tengah berada dalam kondisi sangat memprihatinkan khususnya masalah pornografi dan […]

Leave a comment

Berlangganan Tulisan ke Email

Ketik email anda untu mendapatkan update terbaru langsung ke email anda.